top of page

Milky Perfume dan Lactonic Notes: Kenapa Aroma Creamy Sedang Naik?

4 days ago
3 min read

Parfum gourmand tidak lagi hanya identik dengan vanilla, caramel, atau praline. Belakangan, arah gourmand terasa lebih lembut: warm milk, rice milk, coconut cream, creamy sandalwood, atau aroma yang memberi kesan seperti kulit hangat.


Karakter seperti ini sering disebut sebagai milky perfume atau lactonic perfume. Yang membuatnya trendy bukan sekadar aroma “susu”, tetapi tekstur yang dibawanya. Lactonic effect bisa membuat parfum terasa lebih creamy, rounded, soft, atau bahkan lebih intimate tanpa harus menjadi terlalu manis.


milky texture and lactonic feels with lots of florals

Apa Itu Lactonic Notes dalam Parfum?

Dalam perfumery, lactonic notes biasanya merujuk pada karakter yang creamy, milky, fruity, coconut-like, atau buttery. Beberapa lactones juga memiliki sisi peach atau apricot, sehingga efeknya tidak selalu terasa seperti susu secara literal. Karena itu, “milky” dalam parfum lebih tepat dipahami sebagai sebuah texture, bukan hanya sebagai satu note.


Aroma sandalwood bisa terasa lebih creamy. Peach bisa terasa lebih fleshy. Musk bisa terasa lebih soft. White floral pun bisa menjadi lebih rounded dengan sedikit lactonic character.


Kenapa Milky Perfume Sedang Populer?

Arah ini muncul bersamaan dengan berkembangnya skin scent, soft musk, dan gourmand yang lebih refined. Konsumen tetap menyukai aroma manis, tetapi tidak semuanya mencari sweetness yang sangat jelas.


Milky texture memberi rasa nyaman tanpa harus terasa seperti dessert. Ini membuat karakter lactonic lebih mudah masuk ke berbagai jenis parfum, dari gourmand sampai woody, floral, dan musky.


Rice milk, milk tea, coconut milk, toasted grain, atau creamy woods juga terasa lebih fleksibel untuk dikembangkan dibandingkan gourmand yang hanya berfokus pada gula dan vanilla.


Kenapa Lactonic Kadang Tercium Seperti Coconut atau Peach?

Karena beberapa lactones memang memiliki karakter yang berada di area fruity-creamy. Pada dosis tertentu, sisi coconut bisa menjadi lebih dominan. Pada bahan lain, peach atau apricot justru lebih terasa. Karena itu, satu lactone tidak otomatis menghasilkan efek “milk”.


Dosage dan konteks formula sangat menentukan. Jika terlalu tinggi, sebuah material yang awalnya ingin digunakan untuk memberi creaminess justru bisa membuat formula terasa terlalu coconut, buttery, atau fatty.


Inilah salah satu alasan kenapa dalam perfumery, mengenal bahan tidak cukup hanya dari deskripsi aromanya. Yang penting adalah memahami bagaimana material tersebut bekerja ketika konsentrasi dan konteksnya berubah.



Lactonic Tidak Selalu Berarti Gourmand

Karakter lactonic sering dikaitkan dengan gourmand, tetapi penggunaannya jauh lebih luas. Dalam floral, lactonic effect bisa membuat bunga terasa lebih creamy. Dalam woody fragrance, ia bisa mendukung karakter sandalwood yang lembut. Dalam musk composition, ia dapat memberi rasa lebih skin-like dan rounded.


Artinya, lactonic material tidak selalu dipakai sebagai note utama. Kadang fungsinya hanya untuk memperbaiki texture sebuah formula.


Bagaimana Milky Notes Bisa Dikembangkan dalam Perfumery?

Tidak ada satu formula milky yang berlaku untuk semua parfum. Milk yang clean tentu membutuhkan struktur berbeda dari condensed milk yang gourmand. Rice milk berbeda dari coconut milk. Creamy sandalwood juga tidak membutuhkan pendekatan yang sama dengan milky peach.


Karena itu, perfumer biasanya mempertimbangkan beberapa hal sekaligus: seberapa sweet, seberapa fatty, seberapa creamy, dan apakah milkiness perlu terbaca secara jelas atau hanya terasa sebagai texture. Di sinilah pemahaman raw material menjadi lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.


Kenapa Rice Milk Menarik untuk Konteks Asia?

Rice memberi kemungkinan yang menarik karena karakternya tidak hanya starchy. Dalam berbagai interpretasi, rice bisa terasa steamed, sedikit sweet, popcorn-like, pandan-like, atau menyerupai ketan.

Ketika karakter ini bertemu dengan lactonic texture, hasilnya bisa terasa familiar tetapi tetap modern.

Bagi KSA, tren menjadi lebih relevan ketika bisa diterjemahkan ke konteks yang lebih dekat dengan pengalaman aroma di Asia, bukan hanya mengikuti apa yang sedang populer secara global.


Jadi, Apakah Milky Perfume Hanya Tren?

Mungkin istilah “milky perfume” akan bergeser seiring waktu. Namun lactonic materials sendiri sudah lama digunakan dalam perfumery.


Yang berubah adalah cara karakter tersebut dibaca dan dikembangkan. Hari ini bentuknya bisa berupa milk, rice, creamy woods, atau skin scent. Besok bisa muncul dalam interpretasi lain.


Dalam pembelajaran perfumery di Klei Studio Academy, tren digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami material lebih dalam: bagaimana karakter berubah pada dosage berbeda, bagaimana texture dibangun, dan bagaimana satu material dapat memiliki fungsi yang berbeda di dalam formula.

Karena tren bisa berubah. Pemahaman terhadap material jauh lebih bertahan lama.



The Art of Perfumery 101
IDR 799,000.00
Book Now


FAQ

Apa itu milky perfume?

Milky perfume adalah parfum dengan karakter atau texture creamy, soft, atau lactonic yang bisa mengingatkan pada milk, coconut milk, rice milk, atau cream.

Apa itu lactonic notes?

Lactonic notes adalah karakter aroma yang biasanya terasa creamy, milky, fruity, coconut-like, peachy, atau buttery.

Apakah lactonic selalu berarti aroma susu?

Tidak. Banyak lactones juga memiliki karakter peach, coconut, apricot, atau floral.

Apakah milky perfume selalu manis?

Tidak. Lactonic effect bisa digunakan dalam woody, floral, musk, fruity, dan skin scent tanpa membuat parfum terasa sangat manis.

Kenapa lactonic perfume bisa tercium seperti coconut?

Karena beberapa lactones memiliki karakter coconut-like atau fruity-creamy yang cukup jelas, terutama pada dosage tertentu.

 
 
 

Comments


Commenting on this post isn't available anymore. Contact the site owner for more info.
bottom of page